http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/naper/687786.htm
Irman Gusman,
Irman Gusman,
Religiositas Bisnis dan Politik
SOAL krisis ekonomi di Indonesia, sudah banyak pakar ekonomi dan usahawan membahasnya dalam berbagai forum. Akan tetapi, gagasan dan pemikiran yang dikemukakan Irman Gusman di forum Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 PP Muhammadiyah di Padang awal Oktober 2003 dinilai banyak peserta sebagai sesuatu yang urgen dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)
Irman Gusman, Religiositas Bisnis dan Politik
SOAL krisis ekonomi di Indonesia, sudah banyak pakar ekonomi dan usahawan membahasnya dalam berbagai forum. Akan tetapi, gagasan dan pemikiran yang dikemukakan Irman Gusman di forum Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 PP Muhammadiyah di Padang awal Oktober 2003 dinilai banyak peserta sebagai sesuatu yang urgen dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)
Irman Gusman, Religiositas Bisnis dan Politik
SOAL krisis ekonomi di Indonesia, sudah banyak pakar ekonomi dan usahawan membahasnya dalam berbagai forum. Akan tetapi, gagasan dan pemikiran yang dikemukakan Irman Gusman di forum Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 PP Muhammadiyah di Padang awal Oktober 2003 dinilai banyak peserta sebagai sesuatu yang urgen dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)
Irman Gusman, Religiositas Bisnis dan Politik
SOAL krisis ekonomi di Indonesia, sudah banyak pakar ekonomi dan usahawan membahasnya dalam berbagai forum. Akan tetapi, gagasan dan pemikiran yang dikemukakan Irman Gusman di forum Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 PP Muhammadiyah di Padang awal Oktober 2003 dinilai banyak peserta sebagai sesuatu yang urgen dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)
Irman Gusman, Religiositas Bisnis dan Politik
SOAL krisis ekonomi di Indonesia, sudah banyak pakar ekonomi dan usahawan membahasnya dalam berbagai forum. Akan tetapi, gagasan dan pemikiran yang dikemukakan Irman Gusman di forum Musyawarah Nasional Tarjih Ke-26 PP Muhammadiyah di Padang awal Oktober 2003 dinilai banyak peserta sebagai sesuatu yang urgen dan perlu segera ditindaklanjuti.
Menurut Irman, tak bisa disangkal, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merupakan masalah nasional yang memiliki konotasi etika kental. Karena itu, Indonesia saat ini dan ke depan memerlukan, bahkan sangat memerlukan lembaga etika bisnis. Kalau tidak ada keinginan ke arah itu, jangan berharap pemulihan ekonomi akan dicapai. Kata kunci pemulihan ekonomi nasional adalah penegakan etika bisnis dalam setiap strata kehidupan masyarakat.
"Ini perlu political will and courage dari para pemimpin, tokoh masyarakat, untuk memulai menegakkan etika bisnis dalam lingkungan masing-masing," kata Irman.
Tuturnya lagi, lembaga etika bisnis bertugas untuk menyelesaikan persoalan etika, merumuskan kode etik nasional, melakukan evaluasi terhadap kode etik lembaga-lembaga bisnis, profesi, dan organisasi lainnya, ditinjau dari sudut hak asasi manusia. Lembaga ini pun, katanya, bertugas menyelesaikan sengketa akibat pelanggaran kode etik dan pemberian sanksi sosial terhadap pelanggar kode etik dalam bentuk komisi etika atau mahkamah etika nasional.
Etika bisnis yang kelihatannya lebih ringan untuk dijalankan ketimbang penegakan hukum, menurut pria kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar), 11 Februari 1962, ini seharusnya dapat diwujudkan bersama. Karena selain bersifat kesadaran pribadi, etika bisnis lebih merupakan "tanggung jawab moral" terhadap diri sendiri, masyarakat, masa depan, dan Tuhan.
IRMAN Gusman tentu tak sekadar ngomong. Di kancah bisnis, setidaknya ia sudah mempraktikkan hal itu, berdasarkan etika-etika dalam agama atau nilai-nilai Islami (religiositas). Ia menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Hampir semua bisnis yang ia geluti merupakan bisnis pionir.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinal merupakan ciri utama kiprah Irman dalam dunia bisnis. Salah satunya adalah mengantarkan perusahaannya, PT Kopitime DotCom Tbk, sebagai perusahaan jasa teknologi informasi dan Internet pertama di Indonesia yang tercatat (listing) di lantai bursa, Bursa Efek Jakarta (BEJ), menjadi perusahaan publik.
"Sebagai pengusaha dan anggota MPR, saya pertaruhkan nama baik dan reputasi dalam mengembangkan Kopitime sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, termasuk di Asia," katanya.
Dalam hal ini, ia juga mempunyai visi dan misi untuk membantu pengusaha nasional, terutama pengusaha kecil dan menengah (UKM), guna mampu memperluas pangsa pasar ke luar negeri lewat Internet dengan biaya relatif murah. "Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5 juta, tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan biaya dan jaringan," ujarnya.
Kini Irman, di samping menjadi penasihat Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Provinsi Sumbar, Dewan Pakar Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, dan Dewan Pakar Gebu Minang, juga memimpin banyak usaha. Di antaranya sebagai Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa yang membidangi perdagangan dan investasi, juga komisaris utama di sejumlah perusahaan, yakni PT Khage Lestari Timber (pengelolaan dan ekspor kayu olahan), PT Padang Industrial Park (menggagas dan mengelola kawasan industri Padang), PT Guthri Pasaman Nusantara (pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumbar), PT Sumatera Kore Motor, dan PT Kopitime DotCom Tbk.
Di bisnis media cetak, ia terjun langsung menjadi Pemimpin Redaksi Harian Mimbar Minang (surat kabar pertama di Indonesia yang sahamnya 100 persen dimiliki koperasi, suatu terobosan yang mengundang apresiasi dari berbagai kalangan aktivis gerakan koperasi di negeri ini). Ia juga komisaris PT Abdi Bangsa, pemilik harian Republika.
Di bidang pendidikan, Irman yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (1987) dan master of business administration jurusan marketing pada Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, AS (1987), adalah Ketua Yayasan Albadi, pemilik dan pengelola Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (AMIK) di Padang.
"Panggilan jiwa saya sebetulnya adalah sebagai pendidik. Kalaupun saya memilih menjadi pengusaha, maka saya ingin menjadi pengusaha yang mampu mendidik dan mengembangkan jiwa kewirausahaan orang lain, memberikan motivasi dan inspirasi bagi pengusaha atau calon pengusaha lainnya. Bisnis dan bekerja adalah hobi saya, membaca dan mengajar adalah hiburan saya," katanya.
IRMAN tak hanya dikenal di kancah ekonomi, tetapi juga di panggung politik. Baginya, terjun ke jalur politik setelah lama berkecimpung dan meraih puncak prestasi karier sebagai pengusaha muda nasional dan penasihat ekonomi dunia (IBAC) adalah untuk memperluas wilayah pengabdian.
"Hambatan utama dalam pembangunan ekonomi bangsa Indonesia sering kali akibat berbagai kebijakan politik dan tidak prokesejahteraan rakyat. Dalam bisnis sekalipun, ia sering kali berhadapan dengan berbagai ketidakadilan, yang bersumber pada penyimpangan kekuasaan dan kuatnya kepentingan politik. Realitas inilah yang mendorong saya melebarkan sayap pengabdian ke dunia politik," katanya.
Itu pun karena terjadinya perubahan politik yang cukup fundamental, dengan tumbangnya Orde Baru padatahun 1998. Sebagai tokoh muda yang berpikiran brilian dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dalam suatu pemilihan yang demokratis dan transparan, Irman pun mendapat suara terbanyak untuk menjadi utusan daerah Sumatera Barat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999-2004.
Bermodalkan kepercayaan yang diterimanya dan kepiawaiannya dalam memainkan aktivitas politik secara santun, Irman turut membidani lahirnya Fraksi Utusan Daerah MPR, di mana kemudian ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi. Suatu jabatan elite strategis di lembaga tertinggi negara, yang dicapainya dalam usia 39 tahun ketika itu. Dari pernikahannya dengan Liestyana Rizal, ia dikaruniai tiga anak, yakni Irviandari Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman.
KEBERHASILAN yang melesat bak meteror-kalau boleh disebut begitu- dalam menjalani roda bisnis dan politik, bagi anak kedua dari 14 bersaudara ini bukan faktor kebetulan. Setidaknya, Irman memetik pengalaman dari kesuksesan orangtuanya, Drs H Gusman Gaus dan Hj Janimar Kamili.
"Dalam diri seorang Irman Gusman mengalir darah ketokohan dan kepemimpinan serta darah saudagar sekaligus intelektual. Sang ayah, Drs Gusman Gaus (almarhum), dikenal luas sebagai tokoh masyarakat Sumbar, seorang pengusaha sukses dan cendekiawan Muslim yang pernah aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Wakil Ketua Orwil ICMI Sumbar, dan aktif sebagai Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumbar," kata Khairul Jasmi, Presiden Padang Press Club.
Pengalaman merantau juga membuat ia matang dalam menghadapi tantangan hidup. Perantauan geografis dari Padang (Sumbar) ke Jakarta (Jawa) telah memperluas pandangannya tentang Sumbar sebagai aset nasional. Perantauan "etno-nasionalis" dari daerah (kedaerahan) menuju pusat (kebangsaan) telah memperkuat aksesibilitas ketokohannya di tingkat pusat, menjadi tokoh nasional yang memiliki kepedulian memajukan Sumbar. Perantauan "sekto-pluralis" dari lingkungan sektor keagamaan (agama Islam) menuju lingkungan multiagama yang pluralistik telah memerkaya pemahamannya tentang konsep Islam sebagai rahmatan lilalamin dan membuatnya inklusif dan lebih terbuka. (YURNALDI)

Assww.Salam Kenal dari kami. semoga bapak sukses di pemilu 9 april 2009 sebagai DPD Sumbar 2009-2014.
BalasHapus